Konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan pasukan pimpinan AS telah melampaui sasaran militer tradisional, dan menyerang fondasi kehidupan di Teluk Persia: air. Meskipun Iran menghadapi krisis air dalam negeri yang sudah berlangsung lama dan diperburuk oleh perubahan iklim dan kesalahan pengelolaan, perang tersebut telah menimbulkan bahaya baru yang akut di seluruh kawasan. Dengan menargetkan pabrik desalinasi – yang merupakan sumber kehidupan bagi jutaan orang di kawasan Teluk – konflik ini telah mengubah masalah kelangkaan sumber daya menjadi potensi bencana kemanusiaan dan ekologi.
Daerah di Ambang Kehausan
Bagi sebagian besar negara di Teluk Persia, desalinasi bukan sekedar alternatif; itu adalah sumber utama air minum. Menurut Chris Low, direktur Middle East Center di Universitas Utah, 60 juta orang di kawasan ini bergantung pada fasilitas ini. Ketergantungan ini berbeda-beda di setiap negara, namun secara umum tingkat ketergantungannya tinggi di antara negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC):
- Qatar: ~99% ketergantungan
- Kuwait & Bahrain: >90% tanggungan
- Oman: 86% tanggungan
- Arab Saudi: 70% tanggungan
- United Arab Emirates: 42% dependent
Sebaliknya, Iran hanya mengandalkan desalinasi 3% dari kebutuhan airnya. Pasokan airnya secara tradisional diambil dari pencairan salju, sungai, bendungan, dan danau di daerah pegunungan. Namun, Iran juga menghadapi krisis air yang parah, begitu parah sehingga Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan rencana pada tahun 2025 untuk mempertimbangkan pemindahan ibu kota administratif dari Teheran ke pantai selatan karena berkurangnya sumber daya.
Infrastruktur Terbakar
Perang telah menjadikan infrastruktur desalinasi berada dalam bahaya, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan pasokan sipil. Pada bulan Maret, Iran menuduh AS menyerang pabrik desalinasi di Pulau Qeshm di Selat Hormuz. AS menolak bertanggung jawab. Dalam beberapa hari, dampak konflik tersebut terasa di seluruh wilayah Teluk:
- Bahrain menuduh Iran merusak salah satu pabrik desalinasinya.
- Kuwait melaporkan serangan terhadap setidaknya dua fasilitasnya pada bulan April.
Low mencatat bahwa menargetkan pabrik-pabrik ini kemungkinan besar merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional, karena pabrik-pabrik tersebut merupakan infrastruktur sipil. Kerentanan strategis negara-negara ini sangatlah ekstrem. Negara-negara seperti Qatar, Bahrain, dan Kuwait memiliki kapasitas cadangan yang hanya bertahan beberapa hari hingga seminggu. Ada sedikit “kelonggaran” dalam sistem; jika sebuah pabrik besar berhenti beroperasi, dampaknya akan langsung terasa dan parah.
“Jika kita mematikan keran pabrik Jebel Ali di Dubai… Dubai tidak akan berjalan dengan baik. Semua pusat populasi besar tersebut… terhubung dengan fasilitas desalinasi yang sangat signifikan.” — Chris Rendah
Teror Ekologis dan Preseden Sejarah
Ancaman terhadap keamanan air tidak hanya terbatas pada serangan langsung terhadap tanaman. Serangan terhadap infrastruktur energi telah mengakibatkan tumpahan minyak besar-besaran yang terlihat dari luar angkasa, sehingga berisiko tersumbatnya pipa pemasukan desalinasi dan filter kotor. Selain itu, kerusakan pada fasilitas nuklir menimbulkan risiko kontaminasi radioaktif.
Skenario ini mirip dengan Perang Teluk tahun 1990–91, ketika pasukan Saddam Hussein melancarkan kampanye “teror ekologis” di Kuwait. Mereka menyabotase pembangkit listrik dan desalinasi, membakar lebih dari 700 sumur minyak, dan dengan sengaja menumpahkan minyak ke Teluk. Penyelesaian dampaknya membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sehingga memerlukan pengiriman air darurat dari Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat, serta generator diesel bergerak.
Saat ini, strateginya tampak berbeda namun sama-sama menghancurkan. Iran, yang menyadari bahwa mereka tidak dapat mengalahkan AS atau Israel dalam konfrontasi langsung, tampaknya mengadopsi strategi menyebarkan penderitaan ke seluruh perekonomian regional. Misalnya, kerusakan pada fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar—yang menyumbang 20% pasokan LNG global—membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki, sehingga menyebabkan guncangan ekonomi global.
Wildcard Nuklir
Mungkin prospek yang paling menakutkan adalah risiko terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr Iran. Terletak di ujung utara Teluk, dekat Kuwait dan Irak, fasilitas tersebut telah menjadi sasaran beberapa serangan. Low memperingatkan bahwa pelanggaran pembatasan, ditambah dengan hilangnya pasokan listrik dan pendinginan, dapat memicu kehancuran seperti Fukushima. Peristiwa seperti itu tidak hanya akan menghancurkan Iran tetapi juga mencemari perairan Teluk, menciptakan bencana ekologis jangka panjang yang tidak dapat diselesaikan dengan mudah oleh diplomasi apa pun.
Kesimpulan
Perang di Teluk Persia telah mengungkap rapuhnya keamanan perairan di kawasan tersebut. Sementara Iran berjuang dengan pengelolaan air internal, konflik tersebut telah mengubah pabrik desalinasi menjadi sasaran strategis, sehingga mengancam kelangsungan hidup jutaan orang di negara-negara tetangga. Dengan cadangan yang terbatas dan ketergantungan yang tinggi pada infrastruktur yang rentan, negara-negara Teluk menjadi rentan terhadap serangan langsung dan dampak ekologis yang lebih luas akibat peperangan modern.
