Kera Gibraltar Beralih ke Tanah untuk Memerangi Penyakit “Makanan Sampah”.

21

Kera Barbary yang ikonik di Gibraltar—satu-satunya monyet liar yang ditemukan di Eropa—melakukan taktik bertahan hidup yang tidak biasa: memakan tanah. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa perilaku ini, yang dikenal sebagai geophagy, merupakan respons langsung terhadap pola makan yang sangat terkontaminasi oleh makanan ringan manusia.

Bangkitnya Geofagi di Gibraltar

Para peneliti dari Universitas Cambridge, yang dipimpin oleh antropolog biologi Sylvain Lemoine, telah secara resmi mendokumentasikan kera dengan sengaja memakan tanah, tanah liat, dan kotoran. Meskipun geophagy adalah perilaku yang diketahui pada burung dan manusia tertentu, penelitian ini menandai pertama kalinya perilaku tersebut dicatat secara ilmiah pada primata tertentu.

Skala perilakunya sangatlah signifikan. Selama lebih dari 612 jam observasi di sembilan lokasi berbeda, tim mencatat:
46 contoh berbeda geofagi.
– Keterlibatan dari setidaknya 44 individu monyet yang berbeda.
– Pola yang lebih sering muncul di Gibraltar dibandingkan spesies primata lain yang diketahui memakan tanah.

Mengapa Mereka Memakan Kotoran?

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang meresahkan antara pariwisata dan kesehatan primata. Karena Gibraltar adalah tujuan wisata utama, kera sering kali diberi makanan yang sama sekali tidak sesuai dengan pola makan alami mereka, yaitu buah-buahan, biji-bijian, dan sayuran.

Studi ini menyoroti beberapa pendorong utama di balik perilaku ini:

1. Ketidakseimbangan Pola Makan

Makanan cepat saji manusia—yang ditandai dengan tingginya kadar gula, garam, dan lemak—kini menyumbang hampir 20 persen dari total waktu makan monyet. Pola makan “tinggi energi, rendah serat” ini merupakan penyimpangan radikal dari kebutuhan biologis evolusioner mereka.

2. Pengobatan dan Perlindungan Diri

Para peneliti yakin kera menggunakan tanah sebagai bentuk pengobatan mandiri. Mengkonsumsi kotoran dapat memiliki dua tujuan utama:
Menahan perut: Tanah dapat membantu mengurangi gangguan lambung yang disebabkan oleh makanan olahan.
Penghalang pencernaan: Tanah liat dan tanah mungkin bertindak sebagai penghalang fisik di saluran pencernaan untuk melawan mual dan diare.
Suplementasi mineral: Menelan tanah dapat menyediakan bakteri dan mineral penting yang hilang dari pola makan yang banyak mengonsumsi junk food.

3. Perangkap Evolusioner

Ketertarikan terhadap makanan tersebut bukan soal “pilihan” melainkan biologi. Sylvain Lemoine mencatat bahwa mekanisme evolusi yang sama yang mendorong manusia untuk mendambakan lemak dan gula padat kalori—yang awalnya dirancang untuk membantu nenek moyang kita bertahan dalam masa kelangkaan—dipicu pada kera. Di lingkungan yang selalu menyediakan makanan cepat saji, dorongan biologis ini menyebabkan monyet mengalami siklus gizi buruk.

Hubungan Pariwisata

Studi ini menemukan bahwa geophagy paling banyak terjadi di daerah dengan kepadatan wisatawan yang tinggi. Hal ini menunjukkan adanya korelasi langsung antara kehadiran manusia dan perubahan kebiasaan pencernaan kera. Ketika wisatawan terus menawarkan makanan ringan, monyet-monyet tersebut terpaksa beradaptasi dengan konsekuensi fisiologis dari pola makan yang tidak pernah mereka proses secara evolusi.

“Kami pikir kera mulai memakan tanah untuk melindungi sistem pencernaan mereka dari makanan ringan yang berenergi tinggi dan rendah serat,” kata Sylvain Lemoine.


Kesimpulan: Kera di Gibraltar menggunakan geophagy sebagai solusi biologis untuk mengatasi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh pola makan manusia yang mengonsumsi junk food. Hal ini menyoroti dampak besar, yang sering kali tidak disengaja, dari pariwisata dan ketersediaan pangan manusia terhadap kesehatan satwa liar.