John Amos Comenius mengubah cara kita berpikir tentang sekolah. Lahir pada tahun 1592 di Nivnice, Moravia, pendidik dan pemimpin agama asal Ceko ini tidak hanya mengubah sistem. Dia memecahkannya dan mencoba membangunnya dengan lebih baik. Karyanya di Amsterdam, tempat ia meninggal pada tahun 1670, meninggalkan jejak yang masih terlihat di ruang kelas hingga saat ini.
Kebanyakan orang mengenalnya karena mendorong pembelajaran visual. Di hadapannya, buku teks hanyalah dinding teks. Comenius tidak setuju. Dia percaya siswa perlu melihat apa yang mereka pelajari. Ide ini melahirkan Orbis Sensualium Pictus pada tahun 1658. Ini adalah salah satu buku sekolah bergambar pertama yang pernah dibuat. Anda tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan warisannya. Setiap buku teks sains yang bergambar berhutang padanya.
Pembelajaran bahasa adalah medan perang lainnya baginya. Ia menulis Janua Linguarum Reserata pada tahun 1631. Judulnya diterjemahkan menjadi “Pintu Terbuka untuk Bahasa”. Buku teks ini mengajarkan bahasa Latin dengan menjelaskan fakta-fakta berguna tentang dunia. Itu bukan hanya latihan tata bahasa. Ini menghubungkan bahasa dengan kehidupan nyata. Buku itu diterjemahkan ke dalam 16 bahasa. Jumlah tersebut sangat besar untuk abad ke-17.
Comenius menyukai bahasa Latin karena itu adalah kunci budaya Eropa. Namun dia tidak ingin siswa menghafal peraturan tanpa alasan. Dia menekankan pembelajaran tentang berbagai hal. Fakta. Konsep. Dunia di sekitar mereka. Tata bahasa memberikan maknanya. Makna melayani siswa. Pendekatan ini revolusioner. Ini mengalihkan fokus dari hafalan ke pemahaman aktual.
Metodenya tidak hanya bersifat teoretis. Dia mempraktikkannya. Dia ingin pendidikan dapat diakses. Dia ingin itu menjadi visual. Dia ingin itu masuk akal. Itu sebabnya bukunya laris manis. Itu sebabnya mereka masih direferensikan.
Sekolah-sekolah saat ini mungkin tidak mengajarkan bahasa Latin seperti yang dia sarankan. Tapi naluri menggunakan gambar? Untuk menghubungkan kata-kata dengan kenyataan? Itu sidik jarinya. Lihatlah buku anak-anak modern. Mungkin penuh dengan ilustrasi. Ini mungkin sederhana. Ini mungkin mencoba menjelaskan dunia, bukan hanya bahasanya.
Comenius meninggal di Amsterdam. Idenya tidak. Mereka menyebar. Mereka berevolusi. Mereka tetap relevan.
Kami masih kesulitan dalam cara mengajar. Kami masih berdebat mengenai hafalan versus pemahaman. Kami masih bertanya-tanya apakah gambar membantu atau menyakiti. Comenius punya jawabannya. Dia menggunakannya. Kami juga bisa.
Pertanyaannya bukan lagi tentang bahasa Latin. Ini tentang perhatian. Tentang pertunangan. Tentang membuat pembelajaran tetap. Comenius tahu itu. Dia menunjukkan caranya.
Hidupnya berakhir pada tahun 1670. Pekerjaannya tidak. Itu masih di sini.














