Bagaimana Cendekiawan Jepang Menguasai Sains Barat Melalui ‘Pembelajaran Belanda’

12

Jepang menutup pintunya. Selama lebih dari satu setengah abad, negara ini masih terisolasi dari dunia Barat. Ini adalah warisan kebijakan isolasionis ketat Keshogunan Tokugawa yang dimulai pada tahun 1639. Negara-negara Eropa dilarang masuk. Perdagangan terputus. Budaya dibatasi. Satu-satunya celah di tembok ini adalah sebuah pulau buatan kecil di Pelabuhan Nagasaki bernama Deshima.

Di sini, Belanda diperbolehkan berdagang. Mereka adalah satu-satunya penghubung ke Barat.

Karena tidak ada orang Eropa lain yang diizinkan, bahasa Belanda menjadi pintu gerbang eksklusif menuju pengetahuan asing. Para sarjana Jepang menyadari bahwa jika mereka ingin memahami teknologi, ilmu pengetahuan, dan sistem politik Barat, mereka harus belajar bahasa Belanda. Pengejaran ini dikenal sebagai rangaku. Istilah ini secara harfiah diterjemahkan menjadi “pembelajaran Belanda”, namun akhirnya berkembang untuk mewakili semua penyelidikan ilmiah Barat.

Meruntuhkan Penghalang Pengetahuan

Upaya tersebut tidak sembarangan. Itu dilakukan secara terpadu. Para sarjana mendedikasikan diri mereka untuk menguasai bahasa yang tidak mereka ketahui di luar pos perdagangan kecil itu. Mereka menyusun kamus bahasa Belanda-Jepang. Mereka menerbitkan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Belanda. Tujuannya adalah kelangsungan hidup dan kemajuan praktis.

Tanpa rangaku, Jepang mungkin akan terisolasi lebih lama. Sebaliknya, landasan ini memungkinkan adanya respons yang cepat dan luas terhadap Barat pada akhir abad ke-19 dan ke-20. Fondasinya sudah diletakkan jauh sebelum pintu benar-benar terbuka.

Apa yang Sebenarnya Dipelajari Para Cendekiawan?

Cakupan rangaku jauh melampaui penguasaan bahasa sederhana. Pelajar tradisi ini menggali mekanisme kekuasaan Barat. Mereka menganalisis:

  • Kedokteran : Memahami praktik anatomi dan medis Eropa.
  • Ilmu Militer : Menguraikan kode senjata, taktik, dan benteng.
  • Geografi : Belajar tentang dunia di luar Asia Timur.
  • Politik : Memahami struktur pemerintahan negara-negara Barat.

Ini bukanlah teori akademis. Itu adalah operasi intelijen yang disamarkan sebagai penelitian. Para sarjana perlu mengetahui bagaimana Barat berfungsi sehingga Jepang dapat mengatasi konfrontasi yang tak terelakkan.

Mengapa Ini Penting Saat Ini

Kita sering menganggap rangaku sebagai catatan kaki sejarah. Tidak. Hal ini mewakili perubahan penting dalam cara masyarakat mendekati pengetahuan asing. Ketika akses dibatasi, pembelajaran menjadi disengaja. Ini menjadi ketat. Para sarjana Jepang pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ini adalah alat untuk mengakses.

Mereka mengubah penghalang menjadi jembatan. Pos perdagangan Belanda kecil. Pengaruhnya sangat besar.

Warisan periode ini terlihat dari betapa cepatnya Jepang melakukan industrialisasi di kemudian hari. Mereka sudah mempelajari cetak birunya. Mereka hanya memerlukan izin untuk membangun. Izin itu datang. Dan ketika hal itu terjadi, landasannya sudah ada.

Namun seberapa besar keingintahuan awal tersebut yang masih ada dalam sistem pendidikan modern? Kami masih memperlakukan pembelajaran bahasa sebagai suatu kebutuhan dan bukan sebagai keuntungan strategis. Para ulama rangaku memahami bahwa ilmu tanpa akses tidak ada gunanya. Akses tanpa pengetahuan itu berbahaya. Mereka mencari keduanya.

Hasilnya berbicara sendiri. Isolasi berakhir. Teknologi mengalir masuk. Transformasi terjadi dengan cepat. Apakah urgensi yang sama ada dalam cara kita mendekati pembelajaran saat ini adalah pertanyaan yang sama sekali berbeda.

Попередня статтяPengertian Pendidikan Paroki: Apa Itu dan Cara Kerjanya
Наступна статтяMemahami Matriks: Kekuatan Array Angka di Dunia Nyata