RSV Surge: Alat Baru Menawarkan Perlindungan Kuat untuk Bayi

13

Virus pernapasan syncytial (RSV) beredar luas di seluruh AS, berkontribusi terhadap lonjakan penyakit musim dingin selain influenza dan batuk rejan. Meskipun RSV biasanya menyebabkan gejala ringan seperti flu, penyakit ini tetap menjadi penyebab utama bayi dirawat di rumah sakit di Amerika Serikat, dengan risiko yang sangat tinggi selama dua bulan pertama kehidupannya.

Untungnya, intervensi yang sangat efektif kini ada untuk melindungi bayi baru lahir. Hal ini termasuk vaksinasi selama kehamilan dan pemberian antibodi pelindung secara langsung kepada bayi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan bahwa aktivitas RSV meningkat di banyak wilayah, namun pencegahan masih mungkin dilakukan.

Ancaman terhadap Bayi

RSV dapat menyebabkan infeksi paru-paru yang parah, pneumonia, dan bahkan kematian pada anak kecil. Virus ini memicu produksi lendir yang berlebihan, menyumbat saluran udara kecil dan membuat sulit bernapas. Bahkan bayi yang sehat mungkin memerlukan dukungan ventilator. Dampaknya signifikan: hampir semua orang pernah terjangkit RSV, namun bagi bayi, konsekuensinya bisa mengancam jiwa.

Dua Tindakan Perlindungan Utama

Dua alat baru tersedia pada tahun 2023 untuk melindungi bayi baru lahir dari RSV sebelum sistem kekebalan mereka berkembang sepenuhnya:

  1. Vaksinasi Ibu: Pemberian vaksin RSV kepada ibu hamil antara usia kehamilan 32 dan 36 minggu akan meningkatkan antibodi yang ditransfer ke janin melalui plasenta. Antibodi ini menghalangi virus untuk menginfeksi sel.
  2. Suntikan Antibodi Monoklonal: Bayi yang tidak menerima vaksin ibu, atau tidak memenuhi syarat selama musim RSV, dapat menerima dosis langsung antibodi pelindung melalui suntikan seperti nirsevimab (Beyfortus) atau clesrovimab (Enflonsia). Ini memberikan kekebalan langsung hingga enam bulan.

Metode Mana yang Lebih Baik?

Penelitian terbaru menunjukkan antibodi monoklonal mungkin menawarkan perlindungan yang lebih tahan lama dan konsisten dibandingkan dengan vaksinasi ibu. Sebuah penelitian di Perancis menemukan bahwa nirsevimab dikaitkan dengan risiko rawat inap dan komplikasi parah yang lebih rendah dibandingkan vaksin. Studi lain di Spanyol melaporkan penurunan rawat inap RSV pertama kali sebesar 86% di antara bayi yang menerima nirsevimab selama musim 2023-2024.

Namun, para ahli menekankan bahwa kedua metode ini sangat efektif dan harus digunakan dengan tepat. Vaksin tetap menjadi alat yang berharga, terutama bila diberikan selama kehamilan.

Dampak dan Kekhawatiran

Pengenalan alat-alat baru ini telah menunjukkan hasil: tingkat rawat inap RSV pada anak-anak berusia nol hingga tujuh bulan turun sebanyak 43% pada musim 2024-2025. Namun, perubahan terbaru terhadap rekomendasi vaksin anak dapat menyebabkan kebingungan dan mengurangi penyerapan, sehingga berpotensi menghambat kemajuan ini.

Komunikasi yang jelas dan akses berkelanjutan terhadap langkah-langkah perlindungan ini sangat penting untuk memastikan bahwa semua bayi mendapatkan manfaat dari kemajuan terbaru dalam pencegahan RSV.