Satu abad setelah Erwin Schrödinger menerbitkan persamaan penting ini, fisikawan kuantum meninjau kembali pertanyaan mendasar: bagaimana observasi itu sendiri membentuk realitas? Persamaan Schrödinger tetap menjadi alat matematika inti untuk memahami dunia kuantum, namun penelitian saat ini menunjukkan bahwa mengabaikan peran pengamat mungkin merupakan kesalahan yang sangat penting.
Misteri Revolusi Kuantum yang Masih Ada
Sebelum karya Schrödinger pada tahun 1926, mekanika kuantum sudah menjadi sebuah lanskap aneh di mana partikel-partikel berada dalam berbagai keadaan secara bersamaan, dan pengukuran secara mendasar mengubah hasil-hasilnya. Persamaan tersebut memberikan kerangka kerja untuk menghitung probabilitas di dunia yang aneh ini, namun mengabaikan masalah inti: mengapa tindakan pengamatan meruntuhkan fungsi gelombang menjadi satu keadaan yang pasti? “masalah pengukuran” ini telah menghantui fisikawan sejak saat itu.
Pekerjaan terbaru dalam kerangka referensi kuantum mengambil pendekatan baru. Ide utamanya sederhana namun revolusioner: memperlakukan pengamat – termasuk alat pengukurnya – sebagai bagian dari sistem kuantum itu sendiri. Ini bukan sekedar latihan akademis; ini menghasilkan wawasan yang mengejutkan.
Peran Pengamat: Melampaui Saksi Pasif
Fisikawan seperti Anne-Catherine de la Hamette di Institut Teknologi Federal Swiss, Zurich, menekankan bahwa fisika secara historis memperlakukan dirinya sendiri sebagai gaya luar, dan bukan sebagai bagian integral dari persamaan. Dengan melibatkan pengamat, khususnya “jam kuantum” (perangkat yang diatur oleh ketidakpastian kuantum), para peneliti menemukan bahwa fenomena seperti keterjeratan dan superposisi bukanlah kebenaran mutlak namun bergantung pada siapa yang mengamati.
“Hal-hal yang tidak tampak terjerat dalam satu bingkai, bisa terlihat terjerat di bingkai lain.” – Anne-Catherine de la Hamette
Artinya, sifat koneksi kuantum dapat berubah bergantung pada sudut pandang pengamat. Ini bukan sekedar teori; eksperimen mengkonfirmasi realitas yang bergantung pada pengamat ini.
Implikasi terhadap Lubang Hitam dan Gravitasi Kuantum
Implikasinya meluas ke beberapa permasalahan paling menantang dalam fisika. Upaya untuk menyelaraskan mekanika kuantum dengan relativitas umum Einstein, khususnya mengenai lubang hitam, telah diganggu oleh ketidakterbatasan dan inkonsistensi. Anehnya, memasukkan kerangka acuan kuantum ke dalam matematika menyederhanakan perhitungan ini. Menambahkan pengamat dengan jam kuantum membuat masalah yang sebelumnya sulit terselesaikan menjadi terpecahkan.
Hal ini menunjukkan bahwa ruangwaktu itu sendiri mungkin bukanlah latar belakang yang tetap, melainkan sebuah properti yang muncul dan terkait dengan observasi. Jika alam semesta pada dasarnya bergantung pada pengamat, hal ini dapat mengubah pemahaman kita tentang gravitasi dan struktur realitas.
Komunitas yang Berkembang dan Pandangan Masa Depan
Bidang ini mendapatkan momentum, dengan konferensi khusus dan komunitas yang berkembang pesat. Para peneliti kini meninjau kembali eksperimen pemikiran klasik seperti “teman Wigner” dengan lensa baru ini. Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada saat pengamatan masih menjadi pertanyaan utama, namun keterlibatan pengamat tidak lagi menjadi sebuah renungan; itu menjadi prinsip inti.
Abad berikutnya dalam fisika kuantum mungkin ditentukan oleh kesediaannya untuk akhirnya mengakui bahwa seseorang harus melihat. Pelajaran yang bisa diambil, seperti dikatakan de la Hamette, adalah “kita tidak boleh melupakan si pengamat.”
