Gerhana matahari pertama tahun ini, sebuah peristiwa cincin yang menciptakan efek “cincin api” yang dramatis, baru-baru ini diamati dari sudut pandang yang unik: luar angkasa. Badan Antariksa Eropa (ESA) merilis gambar menakjubkan yang diambil oleh satelit PROBA-2 miliknya, menampilkan fenomena langit yang terjadi di Antartika pada 17 Februari.
Mengamati dari Atas
Meskipun gerhana ini terutama terlihat oleh orang-orang yang berada di atau dekat Antartika, satelit PROBA-2 memberikan gambaran yang jelas dari orbit. Satelit kecil ini, dilengkapi dengan instrumen yang dirancang untuk mempelajari matahari dan cuaca luar angkasa, mencatat peristiwa tersebut setidaknya empat kali, menangkap cincin api yang khas dengan tepat.
Apa yang membuat gerhana cincin berbeda? Tidak seperti gerhana matahari total yang mana bulan menutupi matahari sepenuhnya, gerhana cincin terjadi ketika bulan berada lebih jauh dari Bumi. Jarak ini menyebabkan bulan tampak lebih kecil di langit, meninggalkan lingkaran cahaya terang di sekeliling siluetnya. Efeknya indah dan bernilai ilmiah karena memberikan para peneliti data tentang korona matahari dan kondisi atmosfer.
Pemandangan Antartika
Mereka yang ditempatkan di Stasiun Concordia di Antartika disuguhi jarak pandang sekitar dua menit, merasakan efek penuh gerhana di darat. Lokasi ini menawarkan sudut pandang yang ideal untuk mengamati peristiwa-peristiwa tersebut, karena keselarasan antara matahari, bulan, dan Bumi sering kali paling terlihat di wilayah kutub.
Kemampuan ESA untuk menangkap gambar-gambar ini dari luar angkasa menggarisbawahi pentingnya investasi berkelanjutan pada platform observasi berbasis ruang angkasa. Alat-alat ini tidak hanya memberikan visual yang menakjubkan tetapi juga berkontribusi pada pemahaman kita tentang perilaku matahari dan dampaknya terhadap lingkungan bumi.
Gerhana ini berfungsi sebagai pengingat akan hubungan dinamis antara planet kita, bulan, dan matahari – sebuah tontonan yang paling dapat diapresiasi baik dari permukaan bumi maupun dari luar.
