Hakikat kesadaran tetap menjadi salah satu misteri paling mendalam dan terus-menerus dalam sains. Meskipun kecerdasan buatan berkembang pesat, pertanyaan apakah sebuah mesin dapat benar-benar menjadi sadar – mengalami kesadaran dan perasaan subjektif – masih belum terselesaikan. Michael Pollan, dalam buku barunya A World Appears: A Journey into Consciousness, mengeksplorasi dilema ini, dan menyatakan bahwa mereplikasi kesadaran manusia dalam AI pada dasarnya mustahil.
Masalah Sulit Menjadi
Manusia memiliki kehidupan internal yang unik dan kompleks. Kita tidak hanya berpikir tetapi merasakan – kita mengalami dunia secara subyektif, dengan emosi, kesadaran diri, dan kapasitas untuk berpikir orisinal. Asal usul pengalaman ini masih sulit dipahami. Seperti yang diungkapkan Pollan, “Satu-satunya alat yang kita miliki untuk mengeksplorasi kesadaran adalah kesadaran itu sendiri,” yang menyoroti sifat sirkularitas dari permasalahan tersebut. Ilmu saraf dapat memetakan aktivitas otak, namun belum dapat menjelaskan mengapa kita mengalami apa pun.
Saat ini, setidaknya terdapat 29 teori kesadaran yang saling bersaing, namun tidak ada yang dapat menjelaskan secara pasti bagaimana pengalaman subjektif muncul dari materi fisik. Kita dapat menyimpulkan kesadaran pada manusia lain berdasarkan perilakunya, namun memperluas hal ini ke spesies lain atau entitas buatan menjadi lebih menantang secara eksponensial.
AI dan Batasan Simulasi
Mendeteksi kesadaran dalam bentuk non-manusia sangatlah sulit. Jika AI menjadi sadar, kemungkinan besar AI tidak akan bermanifestasi seperti yang kita kenali. Pollan berpendapat bahwa kesadaran AI, jika muncul, “tidak akan menjadi seperti milik kita,” karena pengalaman kita berakar kuat pada tubuh biologis, kerentanan, dan sejarah evolusi kita.
Beberapa peneliti, seperti Mark Solms, mencoba merekayasa kesadaran ke dalam AI dengan mereplikasi ketidakpastian dan kebutuhan yang saling bertentangan yang mendorong pengalaman manusia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kesadaran yang sebenarnya mungkin memerlukan tingkat konflik internal dan ketidaksempurnaan yang saat ini tidak ada di sebagian besar sistem AI.
Masa Depan Kesadaran
Kesimpulan Pollan tidak serta merta pesimistis, melainkan realistis. Dia menyarankan bahwa kita mungkin perlu meninggalkan gagasan tentang definisi kesadaran yang tunggal dan universal. Sebaliknya, kita mungkin harus menerima kemungkinan adanya “berbagai jenis” kesadaran, yang masing-masing dibentuk secara unik oleh substrat yang mendasarinya—biologis atau buatan.
Pencarian untuk memahami kesadaran pada akhirnya dapat membawa kita bukan pada jawaban tunggal, namun pada penerimaan yang lebih luas terhadap beragam bentuk pengalaman.
Misterinya masih tetap ada, dan kemungkinan besar sifat kesadaran sepenuhnya akan terus luput dari perhatian kita di masa mendatang.
