Sirkuit Otak di Balik Penundaan yang Diidentifikasi pada Monyet

23

Para peneliti telah menemukan sirkuit saraf spesifik pada kera yang berfungsi sebagai “rem” alami pada motivasi, yang menjelaskan mengapa manusia dan hewan sama-sama kesulitan untuk memulai tugas yang tidak menyenangkan. Penemuan yang dipublikasikan di Current Biology ini menunjukkan bahwa penundaan bukan sekadar masalah kemauan, namun berakar pada mekanisme neurobiologis.

Rem Motivasi: Jalur Syaraf

Studi ini berfokus pada bagaimana monyet merespons tugas dengan imbalan yang bervariasi: imbalan sederhana versus imbalan yang dipadukan dengan stimulus yang tidak menyenangkan (embusan udara ke wajah). Seperti yang diharapkan, monyet menjadi lebih ragu-ragu ketika tugasnya melibatkan hembusan udara yang tidak menyenangkan.

Untuk menyelidiki lebih lanjut, para ilmuwan menggunakan chemogenetics – sebuah metode yang secara tepat mengontrol aktivitas sel otak dengan obat-obatan – untuk menekan sirkuit yang menghubungkan ventral striatum dan ventral pallidum, dua wilayah otak yang penting untuk motivasi.

Aksi Menekan Rem Kemudahan

Ketika aktivitas sirkuit ditekan, monyet bertindak lebih siap dalam melakukan tugas bahkan ketika menyadari akan adanya hembusan udara. Hal ini menunjukkan bahwa jalur yang teridentifikasi secara langsung mengatur permulaan tindakan ketika menghadapi ketidaknyamanan. Para peneliti menjelaskan bahwa penekanan jalur ini secara efektif “melonggarkan” rem motivasi.

Implikasinya terhadap Perilaku Manusia

Temuan ini dapat memberikan wawasan mengapa orang kesulitan mengerjakan tugas yang mereka anggap tidak menyenangkan, mulai dari tugas kerja hingga percakapan yang sulit. Associate Professor Ken-ichi Amemori dari Universitas Kyoto mencatat bahwa memahami mekanisme ini dapat membantu menjelaskan motivasi dalam masyarakat modern yang penuh tekanan. Penelitian ini tidak secara langsung berlaku pada manusia, namun sirkuit saraf yang mendasarinya diyakini cukup mirip untuk menunjukkan mekanisme yang sama.

Studi ini menggarisbawahi bahwa penundaan bukanlah kegagalan moral namun merupakan konsekuensi dari proses otak mendasar yang dirancang untuk memprioritaskan menghindari ketidaknyamanan, bahkan dengan mengorbankan efisiensi. Penemuan ini dapat mengarah pada intervensi di masa depan yang membantu orang mengatasi hambatan motivasi dalam kehidupan sehari-hari.

Попередня статтяReklamasi Alam yang Cepat: Seberapa Cepat NYC Jatuh Tanpa Manusia?
Наступна статтяRekam Pengamatan Bintik Matahari Menghasilkan Wawasan Cuaca Luar Angkasa Baru