Monyet Tidak Hanya Merasa Wajah: Pemindaian Otak Mengungkapkan Ekspresi yang Terhitung

24

Penelitian baru menunjukkan bahwa monyet, seperti manusia, tidak hanya menampilkan emosi di wajah mereka—mereka memilih emosi tersebut, memadukan reaksi yang tidak disengaja dengan sinyal sosial yang disengaja. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Science menunjukkan bahwa pusat kendali emosional dan sukarela di otak kera bekerja sama untuk menghasilkan ekspresi wajah, menantang asumsi yang telah berusia puluhan tahun tentang bagaimana wajah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Teori Lama vs. Kenyataan

Selama bertahun-tahun, gagasan yang dominan adalah bahwa ekspresi wajah sebagian besar bersifat otomatis, yang merupakan keluaran langsung dari emosi internal. Pandangan ini sulit menjelaskan mengapa kita memalsukan senyuman, menekan reaksi, atau dengan hati-hati menyesuaikan ekspresi kita agar sesuai dengan situasi sosial. Penelitian baru menunjukkan bahwa otak tidak hanya bereaksi —tetapi juga menghitung.

Cara Kerja Studi

Para peneliti di Universitas Pennsylvania dan Universitas Rockefeller memantau aktivitas saraf kera rhesus saat mereka berinteraksi satu sama lain, avatar digital, dan video monyet lainnya. Temuan mereka menunjukkan bahwa korteks medial (bertanggung jawab atas emosi spontan) dan korteks lateral (mengendalikan tindakan sukarela) terlibat dalam semua jenis ekspresi wajah.

Ini berarti bahwa ekspresi yang tampak “alami” sebagian merupakan pilihan sadar, bukan hanya reaksi naluri.

Kecepatan dan Waktu Penting

Kedua wilayah otak beroperasi pada kecepatan yang berbeda. Korteks lateral mengoordinasikan gerakan cepat untuk kelancaran interaksi sosial, sedangkan korteks medial memproses faktor-faktor yang berubah lebih lambat, seperti menilai hierarki dominasi (“Apakah laki-laki alfa masih mengancam saya?”). Yang penting, pola saraf mendahului gerakan wajah, menunjukkan bahwa otak mempersiapkan ekspresi terlebih dahulu.

Apakah Monyet Manipulatif?

Para peneliti di Universitas Nottingham Trent berpendapat bahwa jika ekspresi wajah sebagian bersifat sukarela, maka hal itu mungkin merupakan “alat untuk mempengaruhi sosial”. Hal ini menyiratkan bahwa kera, seperti halnya manusia, menggunakan wajah mereka secara strategis untuk memanipulasi orang lain, bukan sekadar mengungkapkan emosi yang jujur.

Jika benar, hal ini menimbulkan pertanyaan tidak nyaman tentang ketulusan semua ekspresi wajah.

Gambaran Lebih Besar

Psikolog sosial dan evolusi Alan Fridlund berpendapat bahwa penelitian ini memberikan cara yang lebih rinci untuk menyelidiki neurologi tampilan wajah. Namun, ia memperingatkan bahwa laboratorium mungkin tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas komunikasi primata di alam liar.

Temuan ini menunjukkan bahwa wajah bukan hanya cerminan emosi—wajah juga merupakan partisipan aktif dalam permainan sosial, yang memadukan naluri dengan niat.

Penelitian ini tidak membuktikan bahwa monyet dengan sengaja merencanakan setiap seringai atau seringai, namun penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi wajah jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian ini menantang asumsi lama bahwa wajah selalu mengungkapkan apa yang ada di dalam diri kita dan menyarankan bahwa kita mungkin membaca emosi ke dalam ekspresi yang, setidaknya sebagian, dikonstruksi untuk efek sosial.

Попередня статтяRelokasi Kutub Selatan: Mengapa Dasar Geografis Bumi Bergeser Setiap Tahun
Наступна статтяAI dalam Pendidikan: Pentingnya Transparansi dan Kepercayaan