Paus Luar Angkasa dan Fiksi Ilmiah Aneh: Membayangkan Kembali Raksasa Sastra

16

Apa yang terjadi jika Anda mengambil salah satu pilar paling menakutkan dari kanon sastra Inggris—Moby-Dick karya Herman Melville—dan meluncurkannya ke luar angkasa?

Dalam novel barunya, Hati Neraka , penulis Alexis Hall melakukan transplantasi sastra yang berani. Dia mengubah kisah obsesi dan perburuan paus tahun 1851 menjadi “opera luar angkasa fiksi ilmiah yang aneh”. Hasilnya adalah sebuah kisah yang menukar lautan luas yang tidak dapat diketahui di Bumi dengan kedalaman atmosfer Jupiter yang menghancurkan, membayangkan kembali Ismael klasik sebagai seorang wanita trans yang menavigasi awak pesawat ruang angkasa Pequod.

Dari Kapal Penangkapan Ikan Paus hingga Kapal Luar Angkasa

Inspirasi perubahan kosmik ini lahir dari sumber yang tidak terduga: tantangan membaca selama masa lockdown. Saat mencoba membaca Moby-Dick satu bab sehari selama pandemi tahun 2020, Hall mendapati dirinya terpesona tidak hanya oleh plotnya, tetapi juga oleh perhatian Melville yang granular dan hampir obsesif terhadap detail.

“Saya pikir Melville cukup besar untuk menerimanya,” kata Hall. “Saya pikir salah satu alasan memilih fiksi ilmiah secara khusus adalah karena ada sudut pandang tertentu yang menyatakan Moby-Dick adalah buku fiksi ilmiah… Tingkat detail yang Anda miliki tentang cara kerja perburuan paus… adalah sesuatu yang masih bisa Anda lakukan dalam genre fiksi ilmiah.”

Hall berpendapat bahwa ketertarikan Melville terhadap hal-hal teknis perburuan paus—bahkan detail biologis yang aneh atau “acak”—mencerminkan cara fiksi ilmiah membangun dunia. Dengan memindahkan latar ke Jupiter, Hall mampu mempertahankan “energi” detail pembangunan dunia yang sangat spesifik sambil menjelajahi perbatasan yang jauh lebih asing.

Ilmu Pengetahuan tentang “Binatang Möbius”

Meskipun buku ini adalah karya fiksi, Hall telah memasukkannya dengan sejumlah ilmu pengetahuan tentang planet yang mengejutkan. Latarnya bukan sekadar latar belakang; itu adalah karakter itu sendiri.

Novel ini mengeksplorasi realitas mengerikan dari lingkungan Jupiter, dengan menggabungkan:
Komposisi Atmosfer: Hall meneliti gas dan profil suhu raksasa gas tersebut untuk memastikan pengaturannya terasa membumi.
Fenomena Ekstrim: Narasinya menyentuh teori ilmiah nyata, seperti kemungkinan adanya “hujan berlian” di dalam lapisan Jupiter.
Fisika Fluida: “Lautan hidrogen” di pusat planet ini terinspirasi oleh perilaku aneh yang mencerminkan perilaku hidrogen cair dan helium, yang dikenal sebagai superfluiditas.

Namun, Hall berhati-hati dalam mengelola ekspektasi pembaca. Dia menekankan bahwa meskipun dia menggunakan sains nyata untuk lulus “tes mengendus”, buku tersebut pada akhirnya adalah opera luar angkasa yang dirancang untuk memberikan dampak naratif, bukan buku teks.

Ekosistem Baru: Leviathans di Jupiter

Untuk menerjemahkan ekosistem maritim karya Melville ke luar angkasa, Hall mengembangkan sistem klasifikasi kompleks untuk “raksasa” Jupiter. Makhluk-makhluk ini memiliki peran biologis dan naratif, mengisi ceruk yang ditinggalkan oleh hiu, burung, dan paus dalam teks aslinya:

  1. Leviathans: “Paus” utama dalam cerita ini, yang menempati peran sentral dalam rantai makanan kosmik.
  2. Wyrms: Makhluk mirip belut yang berperan sebagai hiu dan burung pemakan bangkai.
  3. Krakens: Kantung mengambang yang bertindak sebagai predator oportunistik.
  4. Behemoth: Makhluk besar yang tidak banyak bergerak, yang mirip dengan bangkai ikan paus di dasar laut, menciptakan penghubung kehidupan baru.

Pencarian Yang Tak Berujung

Di luar alien dan fisika, Hati Neraka bergulat dengan pertanyaan filosofis inti yang menjadikan Moby-Dick sebuah mahakarya. Novel aslinya mengeksplorasi “ketidaktahuan” lautan dan batasan persepsi manusia.

Di tangan Hall, tema ini diperbarui untuk era luar angkasa. Garis Möbius yang “tidak ada habisnya”—motif yang berulang dalam buku ini—mewakili eksplorasi ruang angkasa yang tidak ada habisnya, perburuan sumber daya yang tiada henti, dan pencarian identitas diri yang internal dan tak terbatas. Dengan memindahkan latar ke bintang-bintang, Hall membuat luasnya hal-hal yang tidak diketahui terasa langsung dan dapat diakses oleh penonton modern.


Kesimpulan
Hati Neraka lebih dari sekedar menceritakan kembali; ini adalah evolusi tematik yang menggunakan luasnya fiksi ilmiah untuk mengeksplorasi obsesi abadi yang sama yang ditemukan dalam sastra klasik. Melalui perpaduan identitas queer dan ilmu pengetahuan planet, ia menata ulang hal-hal yang “tidak dapat diketahui” untuk generasi baru.

Попередня статтяMisteri Evolusioner: Mengapa Manusia Kehilangan Ekornya