Penelitian baru mengungkap bagaimana kelelawar menavigasi lingkungan yang kompleks dengan secara halus melacak perubahan nada suara saat mereka bergerak – sebuah teknik yang berpotensi diterapkan pada teknologi drone dan mobil tanpa pengemudi.
Tantangan Ekolokasi dalam Kekacauan
Kelelawar terkenal dengan kemampuan ekolokasinya, menggunakan suara untuk “melihat” dalam kegelapan. Namun menavigasi hutan atau gua yang padat menghadirkan tantangan unik: ribuan gema memantul dari permukaan sekaligus. Bagaimana kelelawar mengisolasi sinyal yang benar di tengah kekacauan ini? Para peneliti di Universitas Bristol dan Universitas Manchester telah menemukan mekanisme kunci: kelelawar memantau bagaimana gerakan mereka mengubah nada suara yang kembali, yang dikenal sebagai efek Doppler.
Eksperimen ‘Akselerator Kelelawar’
Untuk menguji teori ini, para ilmuwan merancang peralatan luar biasa yang dijuluki “akselerator kelelawar”. Ini terdiri dari terowongan sepanjang delapan meter yang dilapisi dengan 8.000 daun plastik yang dijepit dengan tangan yang dipasang di atas treadmill. Dengan memanipulasi kecepatan treadmill, peneliti dapat mengelabui kelelawar agar merasakan gerakan berbeda dibandingkan dengan lingkungannya.
Tim mengamati bahwa ketika treadmill bergerak sesuai dengan arah terbang kelelawar, hewan-hewan tersebut semakin cepat. Sebaliknya, ketika dedaunan tampak bergerak ke arah mereka, mereka melambat. Hal ini menegaskan bahwa kelelawar tidak hanya mendengarkan gema, namun secara aktif memproses bagaimana gema tersebut berubah saat mereka terbang.
Pentingnya Pergeseran Doppler
Studi ini menunjukkan bahwa bahkan kelelawar yang sebelumnya tidak diidentifikasi sebagai “spesialis Doppler” mengandalkan efek ini untuk navigasi. Seperti yang dijelaskan oleh Marc Holderied, seorang profesor biologi sensorik di Universitas Bristol, “Saat kelelawar bergerak, pergeseran Doppler ini membawa informasi” – memungkinkan mereka menafsirkan lanskap pendengaran yang kompleks.
Penemuan ini mempunyai implikasi di luar biologi kelelawar. Athia Haron, peneliti teknik medis di Universitas Manchester, berpendapat bahwa memahami cara kelelawar menavigasi ruang yang berantakan dapat meningkatkan sistem navigasi untuk drone dan mobil tanpa pengemudi, yang saat ini mengalami kesulitan dalam kondisi serupa.
Para peneliti yakin metode ini dapat membantu menciptakan sistem otonom yang lebih andal dengan meniru kemampuan kelelawar dalam menafsirkan perubahan suara secara real time.
Temuan ini menyoroti kompleksitas navigasi hewan yang luar biasa dan potensi solusi teknik yang terinspirasi dari bio.
