Dunia pendidikan dipenuhi dengan janji-janji akan solusi teknologi, namun pembelajaran yang paling berdampak masih terjadi melalui kerja keras para guru yang terampil. Meskipun miliaran dolar mengalir ke bidang teknologi pendidikan, kebenaran mendasarnya tetap ada: pendidik manusia adalah kekuatan pendorong di balik hasil pendidikan yang kuat. Kesenjangan sumber daya antara sektor teknologi dan ruang kelas tempat pembelajaran sebenarnya terjadi sangat mencolok, sehingga menimbulkan pertanyaan kritis tentang prioritas kita.
Unsur Manusia dalam Pendidikan
Pengajaran yang efektif bukanlah tentang alat yang mencolok atau perangkat lunak yang mutakhir; ini tentang keahlian, pengalaman, dan pemahaman mendalam tentang cara siswa belajar. Seorang guru yang membimbing siswanya dengan mengucapkan kata-kata, dengan cermat memilih dorongan, dan menciptakan lingkungan belajar yang menarik merupakan perwujudan inti dari pedagogi yang efektif. Momen-momen ini menyoroti peran interaksi manusia yang tak tergantikan dalam menumbuhkan pemahaman yang tulus.
Hal ini tidak berarti bahwa teknologi tidak mempunyai tempat dalam pendidikan. Alat-alat digital dapat mempersonalisasi pengajaran dan menyederhanakan tugas-tugas administratif, namun alat-alat tersebut bersifat tambahan, bukan dasar. Sebuah sekolah di San Francisco berhasil menggunakan alat digital untuk latihan ekstra dan umpan balik yang cepat, namun pengalaman belajar yang paling berkesan masih berasal dari kelas yang dipimpin oleh manusia dan ekosistem sekolah yang dirancang dengan cermat.
Penekanan yang Salah pada Edtech
Lanskap pendanaan saat ini mencerminkan perspektif yang tidak seimbang. Antara tahun 2023 dan 2025 saja, MagicSchoolAI memperoleh pendanaan awal sebesar $60 juta, sementara banyak sekolah menghadapi pemotongan anggaran yang melemahkan. Ketidakseimbangan ini menunjukkan kesalahan alokasi sumber daya yang mendasar. Industri teknologi pendidikan menikmati putaran investasi yang besar meskipun profitabilitasnya belum terbukti, sementara para pendidik berjuang dengan kekurangan staf di ruang kelas dan kompensasi yang tidak memadai.
Hal ini lebih lanjut diilustrasikan oleh kontras antara struktur perusahaan edtech yang memiliki sumber daya yang baik (tim khusus untuk desain, teknik, penjualan, dan kesuksesan pelanggan) dan beban kerja tunggal yang dihadapi oleh sebagian besar guru. Seorang pendidik harus menangani kurikulum, data, masalah TI, dan dukungan emosional – namun sering kali mereka dibayar rendah dan terlalu banyak bekerja. Kenyataannya adalah para pendidik berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit.
Mengutamakan Sumber Daya Manusia
Aspek pendidikan yang paling penting tetaplah interaksi manusia sehari-hari antara guru dan siswa. Jika kita serius dalam meningkatkan hasil pendidikan, kita harus mengalihkan fokus kita dari solusi teknologi yang berlebihan ke investasi pada pendidik yang benar-benar mendorong pembelajaran. Gaji yang kompetitif, beban kerja yang dapat dikelola, dan peluang pertumbuhan yang berharga bukanlah sebuah kemewahan; itu adalah kebutuhan untuk menarik dan mempertahankan guru-guru berbakat.
“Ini bukanlah alat teknologi yang menciptakan keajaiban pengalaman belajar yang luar biasa bagi siswa. Ini adalah tim pendidik manusia.”
Masalahnya bukan karena teknologi pendidikan tidak mempunyai nilai; antusiasme dan urgensi yang sama yang diterapkan di sekolah dapat memberikan hasil yang jauh lebih berarti. Dengan memprioritaskan sumber daya manusia, kita dapat menciptakan sistem pendidikan berkelanjutan di mana guru dihargai, didukung, dan diberdayakan untuk melakukan pekerjaan terbaiknya. Potensi transformasi sebenarnya bukan terletak pada aplikasi baru yang menarik, namun pada pengakuan dan investasi pada orang-orang yang memungkinkan pembelajaran.





















