Gen yang Terkait dengan Perawatan Ayah pada Tikus Mengungkapkan Dasar Biologis dari “Ayah yang Baik”

22
Gen yang Terkait dengan Perawatan Ayah pada Tikus Mengungkapkan Dasar Biologis dari “Ayah yang Baik”

Penelitian baru menunjukkan bahwa satu gen, Agouti, memainkan peran penting dalam menentukan seberapa aktif tikus jantan terlibat dalam pengasuhan orang tua. Penelitian yang dipublikasikan di Nature ini menyoroti faktor neurobiologis yang memengaruhi perilaku ayah, suatu sifat yang hanya ditemukan pada sebagian kecil mamalia.

Paradoks Ayah yang Penyayang

Bagi sebagian besar spesies mamalia, ayah memainkan peran minimal dalam membesarkan anak. Hanya 3-5% ayah mamalia yang menunjukkan keterlibatan orang tua secara konsisten. Studi baru ini mengidentifikasi potensi mekanisme biologis di balik mengapa beberapa laki-laki lebih mengasuh dibandingkan yang lain. Para peneliti di Universitas Princeton menemukan bahwa variasi ekspresi gen Agouti berkorelasi dengan tingkat agresi terhadap anak tikus belang Afrika.

Peran Gen Agouti

Studi tersebut mengungkapkan bahwa tikus dengan ekspresi Agouti yang lebih tinggi cenderung lebih agresif terhadap keturunannya, sedangkan tikus dengan ekspresi Agouti yang lebih rendah menunjukkan perilaku yang lebih peduli. Khususnya, pengaktifan gen Agouti dalam mengasuh pejantan meningkatkan agresi mereka terhadap anak anjing, yang menunjukkan pengaruh langsung gen tersebut terhadap naluri kebapakan.

“Kami tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan sirkuit baru,” jelas Catherine Peña, penulis senior studi tersebut. “Kami tidak menemukan bahwa mereka memiliki evolusi sel unik di otak yang mereka perlukan untuk menjadi ayah.”

Hal ini menunjukkan bahwa tikus jantan sudah memiliki struktur otak yang diperlukan untuk pengasuhan; faktor lingkungan atau genetik hanya memodulasi ekspresi perilaku itu.

Pengaruh Lingkungan

Penelitian ini juga menyoroti bagaimana lingkungan tikus dapat mempengaruhi naluri mengasuh. Tikus yang tinggal di lingkungan padat penduduk atau kekurangan sumber daya menunjukkan ekspresi Agouti yang lebih tinggi, hal ini menunjukkan bahwa tekanan lingkungan dapat mempengaruhi perilaku ayah. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana tekanan serupa dapat mempengaruhi pengasuhan spesies lain, termasuk manusia.

Implikasinya terhadap Pemahaman Perilaku Ayah

Meskipun temuan ini terbatas pada tikus, temuan ini mewakili langkah maju yang penting dalam memahami neurobiologi pengasuhan ayah, bidang yang kurang dipelajari dibandingkan naluri keibuan. Kaitan mengejutkan antara Agouti—yang sebelumnya dikenal berperan dalam pigmentasi dan metabolisme—dan perilaku ayah membuka jalan baru untuk penelitian.

Penelitian ini tidak menyarankan “pil ajaib untuk mengasuh anak”, namun memberikan petunjuk tentang dasar biologis mengapa beberapa mamalia jantan lebih cenderung mengasuh anak mereka. Penelitian di masa depan mungkin mengungkap apakah mekanisme serupa juga terjadi pada spesies lain.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tikus jantan “memiliki apa yang mereka butuhkan untuk menjadi ayah yang baik,” yang menyiratkan bahwa kondisi yang optimal, dibandingkan struktur biologis yang sepenuhnya baru, dapat mendorong pola asuh yang lebih baik.