NASA berhasil meluncurkan misi Artemis II pada Rabu malam setelah beberapa kali penundaan, menandai penerbangan lintas bulan berawak pertama sejak tahun 1972. Keempat astronot – Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen – tidak akan mendarat di Bulan, melainkan akan terbang mengelilinginya, berpotensi menjelajah lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan manusia mana pun sebelumnya. Misi ini mewakili langkah penting dalam tujuan jangka panjang NASA untuk membangun keberadaan bulan yang berkelanjutan dan pada akhirnya, mendorong lebih jauh ke tata surya.
Peluncuran dan Pemeriksaan Sistem Awal
Peluncurannya sendiri berjalan sangat lancar, menurut editor ruang angkasa dan fisika Lee Billings dari Scientific American. Upaya sebelumnya menghadapi masalah dengan megaroket Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS), termasuk kebocoran propelan, khususnya hidrogen cair yang sangat mudah terbakar. Kali ini, NASA melewatkan “latihan pakaian basah” – yaitu uji pengisian bahan bakar penuh – dan langsung meluncurkannya, yang terbukti berhasil.
Keputusan ini menggarisbawahi semakin besarnya kepercayaan terhadap sistem SLS, meskipun juga menyoroti risiko yang melekat pada perjalanan ruang angkasa. Seperti yang dikatakan Billings, bahkan dengan perencanaan yang cermat, masalah yang tidak terduga bisa saja muncul. Awak Artemis II pada dasarnya adalah subjek uji, mendorong pesawat ruang angkasa Orion dan sistem pendukung kehidupannya hingga batas kemampuannya.
Tonggak Penting dan Kekhawatiran
Beberapa fase penting menanti di depan. Pembakaran injeksi translunar – mesin yang menyala selama enam menit untuk mendorong pesawat ruang angkasa menuju Bulan – telah terjadi. Berikutnya adalah masuk kembali ke atmosfer, yang bisa dibilang merupakan bagian misi yang paling berbahaya.
Kapsul Orion akan menghantam atmosfer bumi dengan kecepatan sekitar 25.000 mil per jam, menghasilkan panas yang ekstrim. Pelindung panas pesawat ruang angkasa harus berfungsi dengan sempurna untuk mencegah astronot terbakar atau kapsulnya hancur.
Tes sebelumnya dengan misi Artemis I yang tidak berawak mengungkapkan kerusakan tak terduga pada pelindung panas, dengan bongkahan hilang setelah masuk kembali. NASA belum mengubah desain perisai namun telah menyesuaikan profil masuk kembali untuk mengurangi tekanan pada material. Sudut kemiringan yang curam diharapkan dapat meminimalkan waktu paparan terhadap panas yang paling menyengat.
Beyond the Moon: Pos terdepan di Bulan dan Tujuan Ilmiah
Tujuan utama program Artemis bukan hanya mengunjungi kembali Bulan, tetapi juga membangun pos terdepan permanen di bulan, khususnya di sekitar kutub selatan. Wilayah ini menyimpan potensi cadangan air es yang dapat diubah menjadi air minum, bahan bakar roket, dan bahkan sumber daya pertanian.
Kutub selatan bulan juga menawarkan kondisi ideal untuk penelitian ilmiah. Sisi jauh Bulan terlindung dari gangguan radio Bumi, menjadikannya lokasi yang sangat baik untuk rangkaian teleskop radio. Susunan tersebut dapat mendeteksi gelombang radio samar dari zaman awal alam semesta, sehingga memberikan wawasan tentang “zaman kegelapan kosmik” sebelum bintang dan galaksi terbentuk.
Kembali ke Eksplorasi Bulan
Keputusan untuk kembali ke Bulan menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa kembali? Ada yang berpendapat bahwa Bulan adalah batu loncatan untuk eksplorasi ruang angkasa lebih dalam. Planet ini lebih dekat dan lebih mudah diakses dibandingkan Mars, sehingga menyediakan tempat pengujian berharga bagi teknologi dan strategi yang diperlukan untuk perjalanan antarbintang.
Selain itu, Bulan mungkin menyimpan petunjuk tentang pembentukannya dan sejarah awal tata surya. Menyelidiki geologi, aktivitas seismik, dan potensi sisa-sisa gunung berapi dapat menjelaskan asal usul Bulan dan hubungannya dengan Bumi.
Program Artemis bukannya tanpa kritik, khususnya mereka yang mempertanyakan alokasi sumber daya dalam menghadapi tantangan terestrial yang mendesak. Namun, eksplorasi ruang angkasa tetap menjadi kekuatan pendorong inovasi dan penemuan ilmiah. Apakah manfaat jangka panjangnya lebih besar daripada biayanya merupakan perdebatan yang kemungkinan akan terus berlanjut seiring kemajuan misi Artemis.
Pada akhirnya, Artemis II adalah uji penerbangan penting, yang mendorong teknologi penerbangan luar angkasa manusia hingga batasnya dan meletakkan dasar bagi kehadiran berkelanjutan di luar Bumi. Kesuksesan misi ini bukan hanya sebuah kemenangan rekayasa namun sebuah langkah berani menuju mengungkap rahasia alam semesta kita.
